Jumat, 12 April 2013


 
MAKALAH
KELAINAN DALAM LAMANYA KEHAMILAN
“PREMATUR”
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas dari Dosen
Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Patologi
 

 
Penyusun
Kelompok 1 :
 
Ade Euis Nurfarijah
Carni
Dede Yanti Yatno
Desi Ambarwati
Desi Arisanti
Dhidha Dwi K
 
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTRA BANJAR
Jl. Tanjungsukur Sumanding, No.10 Kota Banjar
2013
 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Bayi Prematur adalah bayi yang lahir kurang dari usia kehamilan yang normal (37 minggu) dan juga dimana bayi mengalami kelainan penampilan fisik.
Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan badan 1500 gr atau kurang saat lahir, sehingga keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan mordibitas dan mortalitas neonatus dan sering di anggap sebagai periode kehamilan pendek (Nelson 1988 dan Sacharin 1996)
Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan asuhan kebidanan, dimana pada bayi prematur sebaiknya dirawat di rumah sakit karena masih membutuhkan cairan-cairan dan pengobatan /serta pemeriksaan Laboratorium yang bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan terapi pada bayi dan anak yang meliputi peran perawat sebagai advokad, fasilitator, pelaksanaan dan pemberi asuhan keperawatan kepada klien.
Tujuan pemberian pelayanan kesehatan pada bayi prematur dengan asuhan kebidanan secara komprehensif adalah untuk menyelesaikan masalah kebidanan.
B.       TUJUAN
a.     Tujuan Umum
Untuk dapat mengetahui asuhan kebidanan pada masalah patologi persalinan prematur dan manajemennya dalam asuhan kebidanan
a.       Tujuan Khsusus
Agar dapat mngetahui mengenai :
a.    pengertian prematur
b.    penyebab bayi premature
c.    tanda dan gejala persalinan premature
d.   factor resiko persalinan prematur
e.    klasifikasi bayi prematur
f.     patofisiologi premature
g.    masalah dan komplikasi yang ditimbulkan oleh persalinan premature
h.    penatalaksanaan persalinan prematur 
BAB II
PEMBAHASAN
A.      DEFINISI
Menurut WHO, persalinan premature adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Dengan demikian, persalainan premature dapat terdiri dari :
1.    Persalinan premature dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan janin sama untuk masa kehamilan (SMK)
2.    Persalinan premature dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan kecil untuk masa kehamilan (KMK).
Nama lainnya dari golongan ini adalah
a.    Small for gestational age (SGA)
b.    Intra uteri grouth retardation (IUGRat)
a.    Inta uteri grout restriction (IUGRst)
Menurut WHO, persalinan premature murni dapat digolongkan menurut usia kehamilan dan berat badan lahir, yaitu :
1.    Sangat premature
2.    Premature sedang
3.    Premature borderline
Prematuritas dan berat lahir rendah biasanya terjadi secara bersamaan, terutama diantara bayi dengan berat 1500 gr atau kurang saat lahir. Keduanya berkaitan dengan terjadinya peningkatan morbilitas dan mortalitas neonatus.
American Academy Pediatric mendefinisikan prematuritas adalah kelahiran hidup bayi dengan berat < 2500 gr. Criteria ini dipakai terus menerus secara luas, sampai tampak bahwa ada perbedaan antara usia hamil dan berat lahir yang disebabkan adanya hambatan pertumbuhan janin
B.       ETIOLOGI
a.    Faktor Maternal
Toksenia, hipertensi, malnutrisi / penyakit kronik, misalnya diabetes mellitus kelahiran premature ini berkaitan dengan adanya kondisi dimana uterus tidak mampu untuk menahan fetus, misalnya pada pemisahan premature, pelepasan plasenta dan infark dari plasenta
b.    Faktor Fetal
Kelainan Kromosomal (misalnya trisomi antosomal), fetus multi ganda, cidera radiasi (Sacharin. 1996)
  
       Faktor yang berhubungan dengan kelahiran premature :
Ø Kehamilan
a.    Malformasi Uterus
b.    Kehamilan ganda
c.    TI. Servik Inkompeten
d.   KPD
e.    Pre eklamsia
f.     Riwayat kelahiran premature
g.    Kelainan Rh
Ø Kondisi medis
1.    Kondisi yang menimbulkan partus preterm
a.    Hipertensi
Tekanan darah tinggi menyebabkan penolong cenderung untuk mengakhiri kehamilan, hal ini menimbulkan prevalensi persalinan preterm meningkat.
b.    Perkembangan janin terhambat
Perkembangan janin terhambat (Intrauterine growth retardation) merupakan kondisi dimana salah satu sebabnya ialah pemasokan oksigen dan makanan mungkin kurang adekuat dan hal ini mendorong untuk terminasi kehamilan lebih dini.
c.    Solusio plasenta
Terlepasnya plasenta akan merangsang untuk terjadi persalinan preterm, meskipun sebagian besar (65%) terjadi aterm. Pada pasien dengan riwayat solusio plasenta maka kemungkinan terulang akan menjadi lebih besar yaitu 11%.
d.   Plasenta previa
Plasenta previa sering kali berhubungan dengan persalinan preterm akibat harus dilakukan tindakan pada perdarahan yang banyak. Bila telah terjadi perdarahan banyak maka kemungkinan kondisi janin kurang baik karena hipoksia.
e.    Kelainan rhesus
Sebelum ditemukan anti D imunoglobulin maka kejadian induksi menjadi berkurang, meskipun demikian hal ini masih dapat terjadi.
f.     Diabetes
Pada kehamilan dengan diabetes yang tidak terkendali maka dapat dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Tapi saat ini dengan pemberian insulin dan diet yang terprogram, umumnya gula darah dapat dikendalikan.
2.    Kondisi yang menimbulkan kontraksi
a.    Kelainan bawaan uterus
Meskipun jarang tetapi dapat dipertimbangkan hubungan kejadian partus preterm dengan kelainan uterus yang ada.
b.    Ketuban pecah dini
Ketuban pecah mungkin mengawali terjadinya kontraksi atau sebaliknya. Ada beberapa kondisi yang mungkin menyertai seperti : serviks inkompeten, hidramnion, kahamilan ganda, infeksi vagina dan serviks, dan lain-lain.
 
c.    Serviks inkompeten
Riwayat tindakan terhadap serviks dapat dihubungkan dengan terjadinya inkompeten. Chamberlain dan Gibbings menemukan 60% dari pasien serviks inkompeten pernah mengalami abortus spontan dan 49% mengalami pengakhiran kehamilan pervaginam.
d.   Kehamilan ganda
Sebanyak 10% pasien dengan dengan partus preterm ialah kehamilan ganda dan secara umum kahamilan ganda mempunyai panjang usia gestasi yang lebih pendek.
Ø Sosial Ekonomi
a.    Tidak melakukan perawatan prenatal
b.    Status sosial ekonomi rendah
c.    Mal nutrisi
d.   Kehamilan remaja
Ø Faktor gaya hidup
a.    Kebiasaan merokok
b.    Kenaikan berat badan selama hamil yang kurang
c.    Penyalahgunaan obat (kokain)
 
d.   Alcohol
C.       TANDA DAN GEJALA
Tanda-tanda persalinan prematur, yaitu
a.    Kram seperti ketika datang bulan atau rasa sakit pada punggung.
b.    Kram perut, dengan atau tanpa diare.
c.    Kontraksi rahim yang teratur dengan jarak waktu sepuluh menit atau kurang dan kontraksi ini tidak harus terasa sakit.
d.   Rasa tertekan pada perut bagian bawah, terasa berat atau seperti bayi yang mendorong ke bawah.
e.    keluar air atau cairan lainnya dari vagina.
D.      FAKTOR RESIKO KELAHIRAN PREMATUR
Ø Resiko Demografik
a.    Ras
b.    Usia (<> 40 tahun)
c.    Status sosio ekonomi rendah
d.   Belum menikah
e.    Tingkat pendidikan rendah
Ø Resiko Medis
a.    Persalinan dan kelahiran premature sebelumnya
b.    Abortus trimester kedua (lebih dari 2x abortus spontan atau elektif)
c.    Anomali uterus
d.   Penyakit-penyakit medis (diabetes, hipertensi)
e.    Resiko kehamilan saat ini : Kehamilan multi janin, Hidramnion, kenaikan BB kecil, masalah-masalah plasenta (misal : plasenta previa, solusio plasenta), pembedahan abdomen, infeksi (misal : pielonefritis, UTI), inkompetensia serviks, KPD, anomaly janin
Ø Resiko Perilaku dan Lingkungan
a.    Nutrisi buruk
b.    Merokok (lebih dari 10 rokok sehari)
c.    Penyalahgunaan alkohol dan zat lainnya (mis. kokain)
d.   Jarang / tidak mendapat perawatan prenatal
Ø Faktor Resiko Potensial
a.    Stres
b.    Iritabilitas uterus
c.    Perestiwa yang mencetuskan kontraksi uterus
d.   Perubahan serviks sebelum awitan persalinan
e.    Ekspansi volume plasma yang tidak adekuat
f.     Defisiensi progesterone
g.    Infeksi
 
E.     KLASIFIKASI
Persalinan prematur murni sesuai dengan definisi WHO
  BATASAN
KRITERIA
KETERANGAN
Sangat prematur
-     Usia kehamilan 24-30 minggu
-     BB bayi 1000-1500 g
Sangat  sulit untuk hidup, kecuali dengan inkubator canggih
Dampak sisanya menonjol,terutama pada IQ nerologis dan pertumbuhan fisiologis
Prematur Sedang
-     Usia kehamilan 31-36 mingu
-     BB bayi 1501-2000 g
-    Dengan perawatan cangih masih mungkin hidup tanpa dampak sisa yang berat
Premuatur borderline
-     Usia kehamilan 36-38 mingu
-     Berat bayi 2001-2499 g
-     Lingkaran kepala 33 cm
-     Lingkaran dada 30 cm
-     Panjang badan sekitar 45cm
-    Masih sangat mungkin hidup  tampa dampak sisa yang berat
-    Perhatikan kemungkinan :
Ø Ganguan napas
Ø Daya isap lemah
Ø tdak tahan terhadap hipotermia
Ø mudah terjadi infeksi
Prematur Berdasarkan Pengolangan Faktor Penyebab
Pengolongan
Kriteria
Keterangan
Golongan 1
dapat terjadi prematur teratur tidak menimbulkan proses  “rekuren”
°         solusio plasenta
°         plasenta previa
°         hidramnion /oligohidromnion
kehamilan ganda
kejadian persalinan prematur sangat jarang berulang dengan sebab yang sama
Golongan  2
-        resiko kejadian persalinan prematur tidak dapat dikontrol oleh penderita sendiri
-        hamil usia muda ,tua (umur kurang 18 tahun atau diatas 40tahun )
-        terdapat anomali alat reproduksi
-    sebagian masih dapat diupayakan untuk dikendalikan
-     anomali alat reproduksi sebagian sulit dikendalikan sekalipun dengan tindakan operasi
Golongan 3
 
-  faktor yang menimbulkan pesalinan prematur dapat dikendalikan sehinga kejadian prematur dapat diturunkan :
KEBIASAAN :
·   Merokok ketagin obat
·   Kebiasaan kerja keras ,kurang tdur dan istirahat
- Keadaan sosial ekonomi  yang menyebabkan konsumsi gizi nutrisi rendah
- Kenali berat badan ibu hamil yang kurang
- Anomali serviks, serviks inkompeten
 
-    Permasalahan yang dihadapi golongan 111,sebagian besar beraspek sosial sehingah peran nya sebagai faktor pemicu persalinan prematur dapat dikendalikan:
-        Kemampuan pengendalian faktor sosial yang berada ditengah masyarakat ,merupakan program obstetr sosial
-        Keberhasilan nya akan dapat dirasakan masyarakan dan mempunyai nilai untuk meningkatkan kemampuan memberikan pelayanan bermutu dan menyeluruh , sebagai stategi sosial.
F.        PATOFISIOLOGI
Persalinan preterm dapat diperkirakan dengan mencari faktor resiko mayor atau minor. Faktor resiko minor ialah penyakit yang disertai demam, perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 12 minggu, riwayat pielonefritis, merokok lebih dari 10 batang perhari, riwayat abortus pada trimester II, riwayat abortus pada trimester I lebih dari 2 kali
Faktor resiko mayor adalah kehamilan multiple, hidramnion, anomali uterus, serviks terbuka lebih dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, serviks mendatar atau memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu, riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali, riwayat persalinan preterm sebelumnya, operasi abdominal pada kehamilan preterm, riwayat operasi konisasi, dan iritabilitas uterus.
Pasien tergolong resiko tinggi bila dijumpai 1 atau lebih faktor resiko mayor atau bila ada 2 atau lebioh resiko minor atau bila ditemukan keduanya. (Kapita selekta, 2000 : 274)
G.      DIAGNOSIS PERSALINAN PREMATUR
Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm. Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar merupakan ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:
a.    Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit
b.    Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
c.    Perdarahan bercak
d.   Perasaan menekan daerah serviks
e.    Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50-80%
f.     Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
g.    Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
h.    Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu
 
H.       MASALAH DAN KOMPLIKASI YANG DAPAT TERJADI PADA BAYI PREMATUR
Masalah kesehatan yang sering dialami bayi lahir prematur:
a.    Masalah kardiovaskular seperti PDA atau Duktus Arteriosus Paten dimana ductus arteriosus tetap terbuka bahkan setelah anak lahir. Anak yang lahir prematur sangat rentan terhadap masalah seperti masalah hipertensi, diabetes dan jantung di usia dewasa mereka.
b.    Penyakit paru-paru kronis dan infeksi seperti displasia bronkopulmonalis, pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan.
c.    Ada beberapa masalah neurologis seperti Ensefalopati hipoksik iskemik, retinopati prematuritas, apnea, serebral palsi, cacat perkembangan, perdarahan intraventrikular. Beberapa bayi cenderung mengalami pendarahan otak. Pendarahan otak parah dapat berakibat fatal. Keterbelakangan mental adalah efek yang bisa terjadi pada kelahiran prematur.
d.   Masalah hematologi yang bisa terjadi pada kelahiran prematur adalah trombositopenia, anemia, ikterus atau hiperbilirubinemia yang menyebabkan kernikterus.
e.    Bayi prematur menghadapi masalah pertumbuhan jangka panjang seperti tingkat pertumbuhan di bawah rata-rata.
f.     Beberapa masalah metabolik dan pencernaan yang juga bisa terjadi pada bayi prematur seperti hernia inguinalis, hipokalsemia, rakhitis, nekrosis enterocolitis, hipoglikemia, dll. Pengamatan yang dilakukan menemukan bahwa, bayi prematur menghadapi kesulitan dalam menyusu, karena kurang energi untuk menghisap susu.
g.    Anak yang lahir antara minggu ke-22 dan 27 lebih rentan terhadap kematian bayi dan SIDS (Sudden Infant Death Syndrome).
h.    Para ahli menyatakan bahwa anak-anak yang lahir prematur menghadapi masalah reproduksi.
i.      Beberapa masalah lainnya seperti sepsis, kebutaan total atau parsial, masalah penglihatan, infeksi saluran kemih, masalah sosial dan emosional, keterampilan mengucap yang kurang, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), masalah koordinasi mata tangan dan IQ lebih rendah.
I.         PENGELOLAAN PERSALINAN PREMATUR
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama mencegah mordibitas dan mortalitas neonates preterm adalah:
1.    Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
2.    Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
3.    Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi
Menurut FKUI. Kapita Selekta Kedokteran. 2001.Setiap persalinan preterm harus dirujuk ke rumah sakit. Cari apakah faktor penyulit ada. Dinilai apakah termasuk risiko tinggi atau rendah.
a.    Sebelum dirujuk, berikan air minum 1.000 ml dalam waktu 30 menit dan nilai apakah kontraksi berhenti atau tidak.
b.    Bila kontraksi masih berlanjut, berikan obat takolitik seperti Fenoterol 5 mg peroral dosis tunggal sebagai pilihan pertama atau Ritodrin mg peroral dosis tinggi sebagai pilihan kedua, atau Ibuprofen 400 mg peroral dosis tungga sebagai pilihan ketiga.
c.    Dampingi ibu ke tempat rujukan dan beri dukungan.
d.   Persalinan tidak boleh ditunda bila ada kontraindikasi mutlak (gawat janin, karioamnionitis, perdarahan antepartum yang banyak) dan kontraindikasi relative (gestosis, DM, pertumbuhan janin terhambat dan pembukaan serviks 4 cm).
METODE UNTUK MERAWAT BAYI PREMATUR
Metode kanguru atau perawatan bayi bermanfaat untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah baik selama perawatan di rumah sakit ataupun di rumah.
Metode kanguru mampu memenuhi kebutuhan asasi bayi berat lahir rendah dengan menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu, sehinggga memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar.
KEUNTUNGAN YANG DI DAPAT DARI METODE KANGURU BAGI PERAWATAN BAYI :
·      Meningkatkan hubungan emosi ibu – anak
·      Menstabilkan suhu tubuh , denyut jantung , dan pernafasan bayi
·      Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi dengan lebih baik
·      Mengurangi strea pada ibu dan bayi
·      Mengurangi lama menangis pada bayi
·      Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi
·      Meningkatkan produksi asi
·      Menurunkan resiko terinfeksi selama perawatan di rumah sakit
·      Mempersingkat masa rawat di rumah sakit
CARA MELAKUKAN METODE KANGURU:
ü Beri bayi pakaian, topi , popok dan kaus kaki yang telah dihangatkan lebih dahulu
ü Letakkan bayi di dada ibu, dengan posisi tegak langsung ke kulit ibu dan pastikan kepala bayi sudah terfiksasi pada dada ibu. Posisikan bayi dengan siku dan tungkai tertekuk , kepala dan dada bayi terletak di dada ibu dengan kepala agak sedikit mendongak.
ü Dapat pula memeakai baju dengan ukuran lebih besar dari badan ibu , dan bayi diletakkan diantara payudara ibu, baju ditangkupkan, kemudian ibu memakai selendang yang dililitkan di perut ibu agar bayi tidak terjatuh.
ü Bila baju ibu tidak dapat menyokong bayi , dapat digunakan handuk atau kain lebar yang elastik atau kantong yang dibuat sedemikian untuk menjaga tubuh bayi.
ü Ibu dapat beraktivitas dengan bebas, dapat bebas bergerak walau berdiri , duduk , jalan, makan dan mengobrol. Pada waktu tidur , posisi ibu setengah duduk atau dengan jalan meletakkan beberapa bantal di belakang punggung ibu.
ü Bila ibu perlu istirahat , dapat digantikan oleh ayah atau orang lain.
ü Dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan persiapan ibu, bayi, posisi bayi , pemantauan bayi , cara pamberian asi , dan kebersihan ibu dan bayi. 
BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Premature adalah persalinan dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau berat bayi kurang dari 2500 gram. Masalah Kesehatan pada bayi prematur, membutuhkan asuhan kebidanan.
Faktor penyebat persalinan bayi prematur adalah adanya faktor maternal, faktor fetal, dan faktor lain, seperti kehamilan, kondisi medis, faktor sosial ekonomi dan faktor gaya idup kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan preterm, yaitu:
a.    Kontraksi yang berulang sdikitnya setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu 10 menit
b.    Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)
c.    Perdarahan bercak
d.   Perasaan menekan daerah serviks
e.    Pemeriksaan serviks menunjukan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm, dan penipisan 50-80%
f.     Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
g.    Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan preterm
h.    Terjadi pada usia kehamilan 22-37 minggu
                                   
B.       SARAN
Dalam pelaksanaan praktek kerja lapangan diharapkan mahasiswa lebih berperan aktif dalam melakukan pembinaan kasus. Sehingga asuhan yang diberikan dapat diterapkan sesuai dengan teori yang didapat di institusi pendidik. 
DAFTAR PUSTAKA
 
http://mahdalenaendang.blogspot.com